BIOLOGI PERIKANAN
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/59/Full%20Paper-Acanthaster.pdf
( JURNAL ASLINYA )
HASIL RESUME.
RESUME
JURNAL
PREFERENSI
DAN DAYA PREDASI
DAFTAR
PUSTAKA
( JURNAL ASLINYA )
HASIL RESUME.
RESUME
MATA KULIAH BIOLOGI PERIKANAN
MENGENAI
PEMBAHASAN
KOMPETISI
DAN PREDASI PADA SPESIES IKAN
( Di Susun
untuk memenuhi tugas mata kuliah biologi perikanan )
DOSEN
PEMBIMBING : Dr. Ani Suryanti,S.Pi.,M.Si
DI
SUSUN OLEH
NO
|
NAMA
|
NIM
|
1.
|
IKE
YAINITA SARI
|
160254241004
|
PROGRAM
STUDI ILMU KELAUTAN
FAKULTAS
ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS
MARITIM RAJA ALI HAJI
2017
RESUME
JURNAL
PREFERENSI
DAN DAYA PREDASI
Acanthaster planci TERHADAP KARANG KERAS
Oleh: Chair Rani
Syafiudin Yusuf & Florentina DS.Benedikta
Jurusan Ilmu Kelautan, Fak. Ilmu Kelautan dan Perikanan
Jurusan Ilmu Kelautan, Fak. Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas
Hasanuddin, Makassar
Jl. Perintis
Kemerdekaan Km. 10, Tamalanrea Makassar-90245
HASIL RESUME
Penelitian
dirancang secara eksperimental dengan mengurung hewan ini pada daerah terumbu
karang. Hewan uji dikelompokkan menurut fase hidup yaitu early juvenil dan juvenil dan
diamati kesenangannya dalam memangsa karang beserta luasan karang yang mati
akibat predasinya,
Dalam ekosistem terumbu karang, karang
keras melakukan dan menghadapi kompetisi, pemangsaan, dan parasitisme dengan
berbagai biota terumbu sebagai bagian dari interaksi ekologinya (Suharsono,
1998). Salah satu predator karang yang mampu merusak koloni karang dan
memodifikasi struktur terumbu karang yaitu Acanthaster planci.
A.
planci adalah biota jenis bintang laut yang bertangan
banyak dan berukuran sangat besar, dan memakan jaringan hidup dari karang keras
sehingga menyebabkan kematian bagi koloni karang. Keunikan morfologi yang
dimiliki dan kemampuan untuk menghasilkan telur dalam jumlah yang sangat besar
menjadikan biota A. planci sebagai
salah satu predator karang yang sangat berbahaya di dalam komunitas terumbu karang.
Preferensi makanan A. planci akan dilihat berdasarkan bentuk pertumbuhan karang yang
dimangsa dan dibedakan berdasarkan diameter tubuh dari A. planci. Penentuan jenis makanan yang disukai ditentukan
berdasarkan jumlah koloni dan total luasan karang yang dimangsa yang dihitung
pada akhir penelitian. Data jumlah koloni dan luasan karang yang dimangsa
disajikan dalam bentuk grafik yang kemudian dianalisis secara deskriptif.
Penentuan laju predasi dikelompokkan
berdasarkan ukuran diameter tubuh A.
planci. Waktu penelitian kemudian dibedakan berdasarkan siklus makan dari A. planci malam (gelap) dan siang
(terang). Perhitungan laju predasi berdasarkan jumlah total luasan koloni
karang yang dimangsa dibagi dengan lamanya waktu penelitian. Hasil perhitungan
laju predasi antara siang dan malam ditampilkan dalam bentuk grafik berdasarkan
kelompok diameter ukuran dan di uji dengan menggunakan t-student yang kemudian akan dianalisis secara deskriptif.
Total luasan spot karang mati akibat
predasi A. planci pada fase Juvenile sebesar 2994 cm2.
Dari total luasan karang mati tersebut, didominasi oleh karang dengan bentuk
pertumbuhan tabulate dengan rata-rata
luasan pemangsaan sebesar 342,33 cm2 per hari untuk masing-masing
individu. Sedangkan bentuk pertumbuhan karang yang paling sedikit dimangsa
yaitu karang bentuk pertumbuhan submassive
yang hanya sebesar 38 cm2
Kondisi di atas tidak jauh berbeda
dengan preferensi makanan A. planci di
Great Barrier Reefs, yang menempatkan
karang dengan bentuk pertumbuhan tabulate
sebagai pilihan makanan yang paling disukai oleh Juvenile A. planci, kemudian karang dengan bentuk pertumbuhan submassive (De’ath dan Moran, 1998).
Fenomena tersebut berbeda dengan yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu
karang dengan bentuk pertumbuhan branching
sebagai makanan yang menempati urutan kedua setelah tabulate. Tampaknya variasi dan dominasi bentuk pertumbuhan karang
yang ada disekitar Juvenile juga
menentukan pilihan makanan
bagi A. planci. Hal ini dapat
dilihat dari persentase tutupan karang hidup dengan bentuk pertumbuhan Submassive pada kurungan II hanya
berkisar 7,04% dibandingkan dengan persentase tutupan branching yang mencapai 24,44%
.
Berdasarkan uji t-student terhadap total laju predasi antara tingkatan fase hidup
menunjukkan bahwa fase juvenile memiliki
laju predasi lebih tinggi bila dibandingkan dengan fase early juvenile (Gambar 5). Hasil ini relatif sama dengan pengamatan
Pearson dan Endean di GBR yaitu 151
cm2/hari/ ind pada early
juvenile. Namun laju predasi pada juvenile
(kurungan II) berbeda jauh dengan pengamatan yang dilakukan oleh Chesher di
GBR dengan laju predasi 378 cm2/hari/ind.
untuk fase juvenile. Adanya perbedaan
laju predasi pada masing-masing fase hidup menunjukkan bahwa faktor ukuran
diameter tubuh A .planci turut
mempengaruhi terhadap besarnya luasan karang yang dimangsa dan secara otomatis
mempengaruhi laju predasi tiap individu A.
planci (Birkeland, 1990).
Adapun laju predasi A. planci terhadap bentuk pertumbuhan koloni karang menunjukkan
bahwa bentuk pertumbuhan tabulate merupakan
koloni karang yang di predasi dalam laju predasi yang tinggi akan
memperlihatkan perbedaan yang nyata antara tingkatan fase hidup (Gambar 6).
Sedangkan bentuk pertumbuhan lainnya relatif rendah dengan laju predasi yang
tidak berbeda nyata antara tingkatan fase hidup. Hasil ini kembali menunjukkan
bahwa bentuk pertumbuhan tabulate merupakan
preferensi dari kedua fase hidup A.
planci dan fase juvenile memiliki
laju predasi lebih tinggi dibandibngkan dengan fase early juvenile.
Berdasarkan uji t-student, rata-rata laju predasi pada bentuk pertumbuhan branching, submassive, massive tidak
berbeda nyata. Perbedaan yang signifikan hanya terdapat pada bentuk pertumbuhan
tabulate (α < 0,05) untuk fase early
juvenile dan Juvenile.
DAFTAR
PUSTAKA
Birkeland, C., and J. Lucas. 1990. A.
planci: Major Management Problem of Coral Reefs.
CRC Press, Inc., Boca Raton, Florida.
Birkeland,
C. 1998. Life and Death of Coral Reefs. University of Guam. Chapman
& Hall, ITP, New York.
De’ath,
G. and P. J. Moran, 1998. Factors affecting the behaviour of crown of thorns
starfish (Acanthaster planci L.) on The Great Barrier Reef: 2: Feeding
preferences. J. Exp. Mar. Biol. Ecol 220:107-126.
Lucas,
J., 1987. Life History. The Crown of Thorns Starfish, Australian Science
Magazine, Issue 3. GBRMPA, Queensland.
Moka,
W., 1995. Struktur Komunitas Bentik pada Ekosistem Terumbu Karang Kepulauan
Spermonde Sulawesi selatan. Laporan Hasil Penelitian Universitas
Hasanuddin. Ujung Pandang.
Moran,
P. J., 1987a. A Close Look: The Crown of Thorns Starfish. The Crown of Thorns
Starfish, Australian Science Magazine, Issue 3. GBRMPA, Queensland.
Moran,
P. J., 1987b. Starfish Outbreaks: The Great Barrier Reef. The Crown of Thorns
Starfish, Australian Science Magazine, Issue 3. GBRMPA, Queensland.
Moran, P. J.,
1990. The Acanthaster planci (L.); Biographical data. Coral Reefs 9; 95-96.
Pusat Studi Terumbu Karang, 2003. Pengelolaan Sumberdaya Hayati Laut Skala
kecil :
Pilot
Proyek Untuk Pemanfaatan
Secara Berkelanjutan Sumberdaya
Hayati
Laut di Pulau Barrang Caddi, Kota Makassar. PSTK Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Suharsono, 1998.
Kesadaran
Masyarakat tentang Terumbu Karang (Kerusakan Karang di Indonesia). Pusat
Penelitian dan Pengembangan Oseanologi –LIPI, Jakarta.

Komentar
Posting Komentar